Written By Natla on Jumat, 04 November 2016 | 19.58
Sejak pagi massa demonstran membanjiri jalan-jalan protokol di
Jakarta. Laporan BMKG yang menyebut akan turun hujan di sekitar area
demo khususnya saat Aksi Bela Islam II berlangsung Jumat (4/11) siang,
tak terbukti. Justru saat aksi digelar sejak siang dan ba’da Jumat
hingga sore ini, cuaca tampak cerah, bahkan panas cukup terik.
Namun panas menyengat tak membuat jutaan umat Islam surut untuk terus
menyampaikan aspirasi mereka. Mereka memprotes ucapan Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menurut MUI telah menista
Al-Qur’an.
Saking banyaknya massa, jalan pun berubah seketika menjadi lautan
putih ketika jutaan umat Islam yang usai melaksanakan shalat Jum’at di
Masjid Istiqlal bergerak menuju istana.
Di sepanjang jalan, shalawat dan gema takbir terus bergema. Pantauan
redaksi, jutaan umat Islam dari berbagai daerah se-Indonesia bersatu
menyampaikan tuntutannya untuk penjarakan Ahok.
Written By Natla on Jumat, 09 September 2016 | 20.23
Polisi Spanyol menyatakan pada Rabu (7/9) bahwa mereka menangkap dua
orang atas tuduhan kejahatan yang didasari kebencian. Mereka diduga
melakukan serangan terhadap wanita hamil yang mengenakan hijab.
Menurut pernyataan polisi yang dirilis Rabu (7/9), pada Senin (5/9)
malam wanita bersama suaminya tersebut berjalan dengan anak-anak mereka
di daerah pusat kota Barcelona.
Wanita itu, sebagaimana dilansir Daily Sabah, Rabu (7/9), dalam kondisi hamil dan mengenakan niqab (jilbab yang menutupi wajah).
Polisi mengatakan dua orang mendekati keluarga tersebut dan mulai
menghina mereka terkaiat dengan cara wanita tersebut berpakaian. Kedua
tersangka diketahui memiliki hubungan dengan kelompok ekstrem sayap
kanan sebuah tim olahraga, kata pernyataan itu.
Suami sang wanita itu diberitakan membalas komentar ofensif dua penyerang tersebut, para saksi mengatakan kepada polisi.
Orang-orang itu dikatakan mulai mendorong sang suami. Ketika mereka
memulai serangan, wanita itu berusaha melerai. Seketika itu, salah satu
penyerang menendang Muslimah yang sedang hamil tersebut pada bagian
perutnya, kata para saksi mata.
Dengan cepat, para saksi mata berlari untuk menghentikan serangan itu dan menelepon polisi, menurut pernyataan itu.
Ketika petugas tiba di lokasi, setelah berbicara dengan para
tersangka penyerang dan saksi, para polisi itu pun memutuskan untuk
menangkap kedua tersangka atas tuduhan kejahatan berdasar kebencian,
diskriminasi dan menyebabkan orang lain terluka.
Tahun lalu Barcelona memiliki angka tertinggi kejahatan berdasar
kebencian yang tercatat di Spanyol. Pada 2015, sebanyak 215 insiden
kejahatan-kebencian dilaporkan di Barcelona, diikuti oleh Madrid dengan
159 insiden, demikian laporan resmi pemerintah.
Arab saudi dan Dewan Kerja Sama Negara Teluk (GCC) menyebut pemimpin
Iran telah “mempolitisasi” ibadah haji dalam rangka untuk mengalihkan
perhatian dari masalah di dalam negeri mereka sendiri.
Berbicara kepada wartawan di Kedutaan Saudi di London seperti dilansir Arab News,
Kamis (8/9), Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al Jubeir menilai
pernyataan pemimpin Iran Ali Khamenei terkait pelaksanaan ibadah haji
hanyalah sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian rakyat Iran dari
kegagalan pemerintah negara tersebut.
Pada Rabu (7/9) kemarin Khamenei menyatakan bahwa Saudi tidak pantas
mengelola Tanah Suci. Ia mengaitkannya dengan tragedi Mina tahun lalu
yang menyebabkan sedikitnya 700 jamaah haji meninggal.
Al Jubeir menekankan bahwa di saat Kerajaan Saudi telah bersiap
menyambut para jamaah haji dari berbagai belahan dunia, Pemerintah Iran
malah menolak untuk mengatur perjalanan dan mengurus visa warganya.
Ia juga menyatakan, koordinasi antara Kerajaan Saudi dan
negara-negara lain yang dilakukan setiap tahunnya bertujuan untuk
menjamin keamanan bagi seluruh jamaah di Tanah Suci.
Dewan Kerja Sama Negara Teluk (GCC) turut mengutuk tuduhan palsu yang dilontarkan pemimpin Iran Ali Khamenei kepada Saudi itu.
Menurut Sekretaris GCC Jenderal Abdullatif Al-Zayani, pernyataan
Khamenei itu adalah upaya putus asa untuk mempolitisasi umat Islam pada
saat berhaji di Tanah Suci.
“Dunia Muslim menyadari sepenuhnya upaya-upaya besar dan usaha tak
kenal lelah yang dilakukan oleh Saudi. Memfasilitasi para jamaah haji
dan memastikan keselamatan mereka sudah menjadi tanggung jawab
kerajaan,” katanya.
Menurutnya, tuduhan-tuduhan tersebut bertentangan sepenuhnya dengan
nilai dan prinsip-prinsip Islam yang menyerukan persaudaraan dan
perdamaian.
“Itu semua tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebijakan bertetangga
dan tidak membantu untuk membangun hubungan yang konstruktif,” ujarnya.
Kritikan terhadap Iran juga datang dari Dewan Ulama Senior
Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dewan Ulama ini menolak pernyataan
Khamenei yang ingin menginternasionalisasi pengelolaan Dua Masjid Suci.
“Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang bertanggungjawab untuk
mengatur haji tanpa campur tangan asing,” kata Dewan Ulama itu dalam
sebuah pernyataan.
Pembina Yayasan Menara Al Islamiyah Syaikh Khalid Al Hamudi
mengapresiasi kehadiran organisasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di
tengah-tengah umat. Menurutnya, keberadaan JITU memegang peran besar
dalam perjuangan Islam, terutama dari sisi media.
“Karena itu, JITU dan media Islam harus terus berusaha untuk
memberitakan yang benar, tidak ditambah, tidak dikurangi,” ujar Syaikh
Khalid saat beramahtamah dengan pengurus dan anggota Jurnalis Islam
Bersatu (JITU), usai penutupan pertemuan Ulama dan Dai Asia Tenggara di
Hotel Aston, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/7/2016) siang.
Syaikh Khalid mengingatkan, begitu memegang peran dan pentingnya
media, sehingga pendapat dan opini masyarakat sangat tergantung pada
media yang mereka baca, lihat dan dengar.
“Orang bisa sesat, juga karena faktor media. Sejumlah media dapat
memberikan cara pandang untuk menyesatkan masyarakat dari agamanya,”
kata dai yang juga pengusaha Arab Saudi ini.
Karenanya, ia mengingatkan kepada JITU bahwa organisasi jurnalis
Muslim yang berdiri empat tahun lalu itu memiliki tanggung jawab untuk
berperan meluruskan hal tersebut.
Untuk itu pula, Syaikh Khalid berpesan kepada JITU agar selalu
meningkatkan peran besarnya dalam arus perjuangan umat dan terus
melakukan komunikasi intensif dan pertemuan yang berkelanjutan.
“Bagi saya, cukup menjadi bukti keseriusan kalian dengan bersatunya
kalian dalam satu organisasi yang bernama Jurnalis Islam Bersatu
(JITU),” ungkapnya.
Syaikh Khalid juga meminta JITU untuk terus meningkatkan kualitas SDM
para jurnalis, misalnya melalui seminar, muhadharah, dan sebagainya.
Pesan penting lainnya bagi seorang jurnalis, kata Syaikh Khalid,
dalam menjalankan profesinya sebagai wartawan, adalah selalu melakukan tabayun (klarifikasi)
sebelum memberitakan, terutama terkait hal-hal yang dinilai
sensitif. “Salah satu bentuk tidak suksesnya sebuah media adalah jika
tidak memberikan klarifikasi dalam pemberitaan,” ujarnya mengingatkan.
Untuk diketahui Syaikh Khalid Al Hamudi dengan lembaganya bernama
Yayayasan Menara Al Islamiyah menjalin kerja sama dengan Ikatan Ulama
dan Dai Asia Tenggara untuk menggelar pertemuan di Hotel Aston, Sentul,
Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Acara yang berlangsung pada 23-26 Juli
2016 itu menghasilkan sejumlah rekomendasi keumatan.
Ketua Fraksi PKS di DPR, Jazuli Juwaini meminta pemerintah Indonesia mengefektifkan diplomasi khususnya dalam bidang HAM kepada Cina terkait kebijakan negara itu melarang Muslim Uighur berpuasa selama bulan Ramadhan.
“Fraksi PKS meminta Pemerintahan Jokowi mengefektifkan diplomasi HAM kepada Pemerintah Cina, agar Cina menghentikan pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur,” katanya di Jakarta, Rabu (8/6).
Jazuli optimis Presiden Joko Widodo yang dikenal dekat dengan pemerintah Cina dapat melakukan diplomasi yang efektif, baik langsung maupun dengan menugaskan Menteri Luar Negeri dan Menteri Agama.
Hal itu menurutnya agar Muslim Uighur diperbolehkan beribadah puasa, sebab puasa tidak ada hubungannya dengan “terorisme” ataupun “separatisme”.
“Sikap dan upaya aktif Pemerintah Indonesia penting bukan saja sebagai representasi negara mayoritas Muslim, tapi juga sebagai pelaksanaan Pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdaimaian abadi di atas penghormatan prinsip-prinsip hak asasi manusia,” ujarnya.
Dia juga memberikan respon kritis atas pelarangan untuk melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan terhadap Muslim Uighur oleh Pemerintah Distrik Xinjiang, Cina. Tindakan itu menurut dia melanggar HAM sehingga seharusnya kebijakan tersebut dicabut.
“Tindakan Pemerintah Tiongkok (Cina, red) yang melarang Muslim Uighur untuk berpuasa jelas melanggar hak asasi manusia. Untuk itu, kami mengimbau Pemerintah Tiongkok agar memperkenankan Umat Islam menjalankan ibadahnya,” ujarnya.
Dia mengatakan, Cina sebagai negara besar di dunia seharusnya tampil memberi contoh dalam mempromosikan penghormatan terhadap HAM terutama terkait dengan keyakinan beragama.
Menurut Anggota Komisi I DPR itu, di zaman modern dengan arus informasi yang demikian maju, rasanya tidak semestinya pelarangan-pelarangan beribadah masih dilakukan apalagi oleh negara sekaliber Cina.
“Kebijakan yang begitu represif terhadap umat Islam, justru merugikan Tiongkok sendiri karena dapat menimbulkan instabilitas dalam negeri dan juga protes dari negara-negara di dunia,” tegasnya.
Pemerintah Cina bagian di Distrik Xinjiang mengeluarkan larangan terhadap anggota partai Islam, PNS, pelajar dan guru untuk berpuasa selama bulan suci Ramadhan. Larangan itu sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Kabar kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) menyusul informasi
peredaran atribut PKI, jadi perhatian berbagai elemen umat dan bangsa.
Hari ini, Jumat (13/5), digelar Silaturahim Purnawirawan TNI/Polri
dengan ormas-ormas Islam dan Kepemudaan di Balai Kartini, Jakarta.
Sejumlah jenderal purnawirawan TNI dan Polri hadir, termasuk Menteri
Pertahanan Ryamizard Ryacudu, yang memberikan arahannya dalam forum ini
terkait seputar kebangkitan PKI.
Selain mantan Kasad Jenderal (Purn) Ryamizard, ada mantan Wakasad
Letjen TNI (purn) Kiki Syahnakri, Ketua Persatuan Purnawirawan TNI
Angkatan Darat Letjen TNI (Purn) Suryadi, Ketua FKPPI Ponco Sutowo,
Ketua Presidium Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila, Sekjen Forum
Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath, Ketua Front Pembela Islam
(FPI) KH Ahmad Shobri Lubis, budayawan Taufiq Ismail, elemen kepemudaan
lainnya seperti Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam
Indonesia (PII).
Dalam kesempatan ini FUI mengeluarkan tujuh pernyataan sikap terkait
bangkitnya PKI di Indonesia. Dalam pernyataan sikapnya, FUI menyatakan
kesiapannya berjihad untuk menghadapi PKI yang disambut pekik takbir
oleh hadirin.
Silaturahim Purnawirawan TNI/Polri dengan Ormas Islam dan Kepemudaan untuk menghadapi isu kebangkitan PKI
“Insya Allah umat Islam siap berjihad bersama TNI
untuk menghadapi PKI dan seluruh underbouwnya dan meminta kepada
pemerintah agar tidak meminggirkan umat Islam dalam berbagai
kebijakannya, termasuk dalam menuduh umat Islam sebagai teroris,” tegas
Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath saat membacakan pernyataan
sikapnya.
Komandan utama milisi Syiah “Hizbullah” pendukung rezim Basyar Asad,
Mustafa Badreddine (55), tewas dalam serangan di Suriah, kata kelompok
asal Lebonan itu, Jumat (13/5). Ini merupakan pukulan telak terhadap
milisi dukungan Iran itu setelah panglima militernya tewas pada 2008.
Mustafa Badreddine yang juga dikenal sebagai Mustafa Badr Al Din
tewas dalam ledakan besar yang menyerang salah satu basis militer
“Hizbullah” di dekat bandar udara Damaskus.
“Dia mengatakan beberapa bulan lalu, ‘Aku tidak akan kembali dari
Suriah, kecuali menjadi martir atau membawa bendera kemenangan’. Dia
adalah seorang komandan tinggi Mustafa Badreddine. Dan dia kembali hari
ini sebagai seorang martir,” kelompok gerakan Syiah itu menyatakan dalam
sebuah pernyataan yang dilakukan oleh channel TV Al-Manar miliknya.
Kematian Badreddine, saudara ipar komandan militer “Hizbullah”, Imad
Moughniyah yang sudah lebih dulu tewas, adalah kehilangan terbesar bagi
“Hizbullah” dan Iran di Suriah.
“Hizbullah” kehilangan sedikit-dikitnya empat tokoh utama sejak
Januari 2015, dimana sejumlah pejabat tinggi militer Iran juga
tewas. Kelompok itu tidak menyebutkan, kapan Badreddine tewas.
Pada pengumuman kematiannya, yang disiarkan oleh channel milik kelompok itu, stasiun televisi Al Manar,
“Hizbullah” mengutip pernyataan Badreddine bulan lalu, “Aku tidak akan
kembali dari Suriah, kecuali menjadi martir atau membawa bendera
kemenangan.” Karena itu, bagi milisi tersebut, Badreddine adalah seorang
martir.
Badreddine adalah salah satu dari lima anggota “Hizbullah” yang
didakwa oleh pengadilan khusus Lebanon yang didukung PBB pada 2005 atas
pembunuhan negawaran Rafik Al Hariri.
Departemen Keuangan AS juga mengungkap bahwa Badreddine-lah yang
memimpin serangan darat “Hizbullah” di Kota Al Qusayr pada 2013, sebagai
salah satu serangan terparah dalam peperangan di Suriah dekat
perbatasan Suriah-Lebanon. Pertempuran ini dimenangkan kelompok pejuang
oposisi Suriah.
Sekitar 1.300 milisi Syiah “Hizbullah” diperkirakan tewas dalam
konflik di Suriah, termasuk sejumlah dedengkotnya seperti Samir Qantar
dan Jihad Moughniyah, putra dari Imad Moughniyah, yang sudah mendahului
tewas tahun lalu.
Ratusan bus akan dipasangi tulisan
SubhanAllah selama bulan Ramadan di London dan empat kota lain sebagai
upaya untuk menggalang dana dan "mengubah iklim negatif" pada komunitas
lain di Inggris.
Di London, bus-bus dengan tulisan 'Subhanallah'
akan mulai dapat dilihat bulan ini dan dilanjutkan di empat kota lain,
menurut penggagas acara ini, badan amal Islamic Relief.
"Pada
tanggal 23 Mei akan terpasang di 180 bus di London selama dua minggu,
dan kemudian akan dipasang lagi dua minggu berikut menjelang akhir
Ramadan dan 460 lagi di Birmingham, Manchester, Leicester dan Bradford,"
kata Safiya Sayed Baharun dari Islamic Relief kepada BBC Indonesia.
Sementara
Imran Madden, direktur Islamic Relief menyatakan tujuan kampanye ini
untuk mengubah apa yang ia sebut "iklim negatif" bagi komunitas Muslim
Inggris.
"Kampanye ini bisa disebut upaya perubahan iklim karena kami
ingin mengubah kampanye negatif terkait bantuan internasional dan juga
di seputar komunitas Muslim di negara ini. Bantuan internasional
berhasil mengurangi jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan
dalam 15 tahun terakhir menjadi setengah," kata Madden.
Sumbangan lebih £100 juta warga Muslim
Image caption
Masjid di Inggris dibuka setiap tahun untuk warga yang ingin berkunjung.
"Muslim di Inggris sangat murah hati dan
menyumbangkan lebih dari £100 juta untuk badan amal internasional selama
Ramadan," tambahnya.
Madden mencontohkan upaya "Kue untuk Suriah"
yang dilakukan oleh lebih dari 1000 sukarelawan yang berkeliling
menjual kue pada "saat puasa dengan waktu yang lama."
"Proyek ini telah menggalang dana £500.000 dalam tiga tahun terakhir," tambahnya.
"Kami
ingin merayakan fakta bahwa kemiskinan ekstrem berhasil dikurangi
menjadi setengah dengan peluang selama Ramadan untuk memberikan lebih
kepada mereka yang membutuhkan."
Data yang dikeluarkan pada
Januari 2016 oleh Badan Nasional Statistik (ONS) menunjukkan jumlah
penduduk Muslim di Inggris untuk pertama kalinya menembus angka tiga
juta.
Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah Prof Dr Hj Tutty Alawiyah AS meninggal dunia pada Rabu, 26 Rajab 1437 H/4 Mei 2016, pukul 7.15 WIB pagi, dalam usia 74 tahun.
“Innaalillaahi wa innaa ilaihirooji’uun. Ibunda kami Hj Tutty Alawiyah AS pagi ini pukul 07.15 telah dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan beliau dan mohon doa agar Allah berikan Rahmat dan JannahNya, aamiin,” demikian pesan singkat putra almarhumah, Prof Dr H Dailami Firdaus, Rabu (4/5) pagi.
Hj Tutty adalah putri seorang ulama besar Betawi pendiri perguruan Islam As-Syafi’iyah, Allahyarham KH Abdullah Syafi’ie. Semasa hidupnya, Hj Tutty aktif sebagai Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) dan pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di penghujung era Soeharto. Selain sebagai Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah, Hj Tutty yang kelahiran di Jakarta, 30 Maret 1942 ini juga pernah menjadi Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Perempuan.
Mantan anggota MPR ini wafat di Rumah Sakit MMC, Jakarta pukul 07.15 pagi, karena sakit. Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka Jalan Raya Jatiwaringin No 50-51, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Dan menurut rencana akan dimakamkan hari ini juga.
Semoga Allah berikan maghfirah-Nya dan diwafatkan dalam husnul khatimah. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha. (
Pakar Psikologi UI Dr. Mirra Noor Milla menyatakan bahwa aparat
keamanan, terutama Densus 88, harus lebih teliti dalam memberikan stigma
teroris kepada seseorang yang tidak bersalah atau masih praduga.
“Yang perlu ditekankan di sini adalah apakah ‘teroris’ itu
benar-benar ada di Indonesia? Karena saya membaca dan meniliti bahwa
‘teroris’ itu hanya isu yang dibuat,” ungkap Mirra dalam Diskusi Publik
tentang Kasus Siyono di Lobi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis
(7/4).
Menurutnya, kasus ‘terorisme’ di Indonesia itu tidak sebanyak jumlah
warga Indonesia pada umumnya, tetapi gaungnya begitu terasa di tengah
masyarakat.
“Setiap kali aparat mengatakan ‘terorisme’, saya itu penasaran apakah
benar ada ‘terorisme’ di Indonesia. Masalahnya isu ‘terorisme’ itu
tidak sebanyak jumlah penduduk Indonesia, hanya sedikit, tapi gaungnya
kemudian menjadi sangat besar,” ujarnya.
Berdasarkan penelitian tentang “terorisme”, kata Mirra, kalaupun
benar ada di Indonesia, itu adalah orang-orang yang cenderung memiliki
kepribadian tertutup kepada orang lain.
“Kalau pun orang sampai menjadi ‘teroris’, maka orang tersebut dapat
dipastikan memiliki kecenderungan individu tertutup kepada orang lain.
Walaupun selama meneliti saya belum menemukan ‘teroris’ yang betulan,” terangnya.
Pemerintah dalam hal ini, menurut Mirra, harus berperan aktif untuk
mencegah tindakan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya
para pemuda.
“Orang-orang yang dapat terpengaruh dengan mudah adalah anak muda.
Banyak anak muda yang memiliki kecenderungan tertutup. Banyak anak muda
yang kehilangan kebermaknaan dirinya sehingga merasa dirinya tidak
berguna lagi, ini yang rentan. Pemerintah harus mengambil sikap,”
tegasnya.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan gagasan merevisi UU “Terorisme” perlu melibatkan komponen Islam. Artinya, tak hanya kepada satu lembaga, Densus 88 saja.
“Dengan adanya gagasan merevisi UU ‘Terorisme’, komponen Islam harus bergerak memberi masukan kepada saudaranya di DPR,” ujar Neta saat menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi publik ‘Densus 88 & RUU Terorisme Membidik Islam?’ di Gedung Joang, Jakarta, Rabu (23/3).
Ia mengatakan, umat Islam bersama organisasi lainnya diharapkan memberikan sikap agresif dan masukan kepada pemerintah untuk merevisi UU “Terorisme” tersebut.
“Ormas Islam diharapkan bersatu merumuskan UU ‘Terorisme’ agar Densus tidak membidik umat Islam. Jangan sampai produk revisi UU ‘Terorisme’ ini menyudutkan umat Islam. Kalau umat Islam dibidik, ini sebuah kesalahan,” tegasnya.
Menurut Neta, kinerja Densus 88 itu jelas sekali membidik umat Islam dengan menjadikan Muslim sebagai “teroris”.
“Densus 88 itu membidik Islam. Saya merasa aneh, 85% di DPR itu Muslim, kok malah (ikut) membidik umat Islam, ini di mana yang salah? Orang Islam ini membidik orang Islam lainnya, ada apa?” tanyanya.
Lebih lanjut, kata Neta, revisi UU “Terorisme” terkesan hanya membicarakan citra umat Islam yang buruk, tetapi pengawasan dan rehabilitasi tidak disentuh.
“Densus itu seperti algojo, main tembak mati orang saja, padahal tugas utama Densus itu melumpuhkan tersangka. Mereka itu dilatih dari uang rakyat, jadi kalau ada orang yang tidak bersenjata tapi dieksekusi mati dan bertindak seperti algojo justru mereka tidak profesional,” jelasnya.
Karena itu, wacana akan menaikkan anggaran untuk Densus 88 menjadi Rp 1,9 triliun, menurut Neta, jadi pertanyaan besar dan perlu disikapi kritis.
“Biaya Densus sudah besar, ke depan ingin dinaikkan 1,9 triliun, ini menjadi pertanyaan, ini harus dikritisi. Unsur-unsur rehabilitasi harus dimasukkan di dalam pasal revisi UU ‘Terorisme’, itu yang terpenting,” tandasnya.
Indonesia tampaknya semakin naik pamor di kalangan wisatawan mancanegara. Dalam sebuah survei yang dilakukan baru-baru ini terhadap wisatawan dunia, posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata untuk muslim mengalami kemajuan.
Survei bernama Global Muslim Travel Index (GMTI) 2016 tersebut mencoba melacak posisi popularitas berbagai negara di pasar wisata muslim. Dan Indonesia tahun ini mengalami kenaikan peringkat dari posisi enam menjadi keempat.
Sebelumnya, pada 20 Oktober 2015, Lombok terpilih sebagai The World’s Best HalalDestination dan The World’s Best Halal Honeymoon Destination dalam ajang World Halal Travel Awards 2015 di Dubai, Emirat Arab. Pada ajang itu, Indonesia membawa pulang penghargaan World’s Best Family Friendly Hotel untuk Sofyan Hotel Jakarta.
Adapun, survei yang melibatkan 130 destinasi wisata tersebut dinilai oleh para wisatawan dari berbagai dunia dalam beberapa kriteria, seperti kesesuaian destinasi liburan keluarga, tingkat layanan dan fasilitas, pilihan akomodasi, pemasaran, serta kedatangan pengunjung. Sebagai tambahan, tahun ini menyertakan kriteria baru yaitu ketersediaan akses layanan penerbangan dan persyaratan visa.
GMTI membagi dua kategori negara dalam survei ini, yaitu negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI, lalu negara non-OKI.
Dari hasil survei GMTI, negara muslim paling populer sebagai destinasi wisata masih dipegang oleh Malaysia dengan nilai sebesar 81,9. Menyusul Malaysia, ada Uni Emirat Arab, Turki, baru Indonesia dengan capaian 70,6 persen.
Setelah Indonesia, negara-negara Timur Tengah banyak menjadi destinasi favorit. Negara tersebut seperti Qatar, Arab Saudi, Oman, Morocco, Jordan, dan Bahrain.
Sedangkan negara non-OKI yang menjadi favorit wisatawan muslim berlibur paling tinggi adalah Singapura dengan nilai 68,4 persen, kemudian Thailand, Inggris, Afrika Selatan, lalu Hong Kong. Kawasan Asia lainnya seperti Taiwan, Jepang, dan Sri Lanka menambah deretan negara Asia Non-OKi yang menjadi destinasi wisatawan muslim.
"Salah satu tren terbesar yang kami lihat adalah destinasi wisata non-OKI tengah berupaya untuk menarik wisatawan muslim dan kini mereka mewakili lebih dari 63 persen destinasi yang tercakup dalam GMTI," kata Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating & HalalTrip sebagai pelaksana GMTI, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com.
"Sebagai contoh, Jepang dan Filipina telah mengambil langkah-langkah penting dalam beberapa bulan terakhir dalam rangka diversifikasi kedatangan para wisatawan luar negeri dan pada akhirnya akan membantu pertumbuhan ekonomi." lanujutnya.
GMTI mencatat pada 2015 jumlah total kedatangan wisatawan muslim mencapai 117 juta. Angka ini adalah 10 persen dari keseluruhan nilai ekonomi industri pariwisata. Capaian tersebut diperkirakan akan terus tumbuh menjadi 168 juta pada 2020 yang setara dengan 11 persen dan senilai US$200 juta.
Menurut catatan GMTI, kawasan Asia dan Eropa merupakan kawasan yang paling banyak menarik wisatawan muslim, yaitu sebesar 87 persen dari keseluruhan pangsa pasar perjalanan wisatawan muslim.
Berdasarkan laporan GMTI, kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara untuk menjaring wisatawan muslim adalah adanya makanan halal, fasilitas salat, sanitasi dan fasilitas air yang memadai, kegiatan saat Ramadan, kegiatan yang halal, privasi pelayanan serta fasilitas rekreasi, dan kepekaan melihat kebutuhan iman wisatawan.
OKI sendiri terdiri dari 57 negara anggota yang berpusat administrasi di Jeddah, Arab Saudi. OKI didirikan pada 1969 sebagai respon awal insiden pembakaran Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Kini, OKI yang bertujuan menyatukan suara umat muslim di dunia dan menjaga dunia muslim demi kedamaian internasional tersebut diperkirakan mempunyai jumlah penduduk sebesar 1,6 miliar jiwa .
Arab Saudi akan membekukan rekening bank dan aset para pendukung Hizbullah di negara tersebut. Peraturan ini tidak hanya berlaku bagi warga asli, tapi juga para ekspatriat di Saudi.
Seperti dikutip Saudi Gazette yang mengutip sumber pejabat Saudi, Kamis (17/3), pembekuan aset para pendukung Hizbullah akan dilakukan oleh unit penyidik finansial di Kementerian Dalam Negeri Saudi.
Pembekuan rekening dan aset dilakukan selama tiga bulan atau lebih selama penyidikan masih berlangsung. Selain pembekuan rekening, Saudi juga akan menyita properti para pendukung Hizbullah.
Sumber Saudi Gazette mengatakan, para ekspatriat yang terbukti terlibat dengan jaringan Hizbullah dan kelompok teroris lainnya akan dideportasi setelah menjalani hukuman penjara. Mereka juga akan dilarang memasuki Saudi lagi. Kelompok militan Syiah Hizbullah asal Libanon dimasukkan ke daftar teroris karena ikut campur dalam perang Suriah. Hizbullah juga dianggap melakukan kampanye media dalam mendiskreditkan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, GCC.
Sebelumnya dua anggota GCC, Bahrain dan Uni Emirat Arab, telah mendeportasi beberapa warga Lebanon yang terkait Hizbullah. Baik GCC dan Liga Arab telah menyatakan Hizbullah sebagai organisasi teroris.
Liga Arab menetapkan Hizbullah seorang kelompok "teroris," menyusul penetapan serupa dari negara-negara Teluk pada pekan lalu. Penetapan ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Iran, yang mendukung kelompok Syiah Hizbullah, dengan Arab Saudi yang merupakan salah satu negara besar dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Negara Teluk mengecam gerakan Hizbullah yang mendukung pemerintah Bashar al-Assad dalam perang Suriah. Selain itu, penetapan ini terjadi Riyadh memutuskan hubungan dengan Teheran menyusul pembakaran kantor kedutaan Saudi di Teheran setelah Saudi mengeksekusi seorang ulama Syiah terkemuka.
Keputusan itu juga diumumkan tak lama setelah pidato pemimpin Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah yang menyatakan bahwa Arab Saudi telah mendorong Libanon ke fase konflik politik baru dengan menangguhkan paket bantuan kepada tentara Lebanon.
Keputusan Liga Arab pada Jumat (11/3) disahkan oleh mayoritas menteri luar negeri dari pan-Arab kecuali Libanon dan Irak yang menyatakan "keberatan," menurut diplomat Bahrain, Wahid Mubarak Sayar.
"Resolusi Dewan Liga Arab (dari menteri luar negeri) termasuk penunjukan Hizbullah sebagai kelompok teroris," katanya sembari membacakan pernyataan di markas Liga Arab di Kairo.
Sayar memaparkan bahwa Aljazair menyatakan akan mengamati keputusan, meskipun ia tidak memberikan rincian terkait hal itu. Dia mengatakan resolusi Liga Arab mengecam "campur tangan Iran" dalam "urusan internal" negara-negara Arab, termasuk Bahrain yang diperintah oleh Muslim Sunni namun mayoritas penduduknya merupakan Syiah.
Januari lalu, Bahrain yang merupakan anggota GCC menyatakan telah membongkar sel "teroris" yang diduga terkait dengan Pengawal Revolusi Iran dan Hizbullah.
Saudi dan sejumlah negara Teluk juga menuduh Iran mendukung pemberontak Syiah Houthi di Yaman, serta berusaha untuk mengacaukan rezim mereka sendiri. Mereka juga mengecam aliansi rezim Suriah dengan Hizbullah namun mendukung kelompok pemberontak yang berjuang menggulingkan pemerintahan Assad sejak 2011.
Meski demikian, Irak menolak untuk mendukung keputusan itu. Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim al-Jaafari menolak mencap Hizbullah sebagai kelompok teroris, sehingga memicu delegasi Saudi untuk meninggalkan ruangan sebagai tanda protes.
Dalam sambutannya di televisi Mesir, CBC Extra, Jaafari memuji pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah yang "berjuang menghadapi terorisme dan Israel dengan keberanian. "
Written By Natla on Sabtu, 27 Februari 2016 | 17.22
Pondok Pesantren Al Fatah di Jagalan, Banguntapan, Bantul, DIY yang
seluruh santrinya adalah waria, akhirnya bubar dan menghentikan seluruh
aktivitasnya.
Kapolsek Banguntapan, Kompol Suharno mengatakan, penutupan aktivitas
ponpes itu dilakukan sendiri oleh pengelolanya. Pihaknya hanya sebagai
penengah saat terjadi pertemuan antara pengelola, ormas, dan
pemerintahan setempat.
“Atas keinginan sendiri, pengelola pondok pesantren yang menutup aktivitasnya,” jelasnya, Jum’at (26/2/2016), seperti dikutip Sindonews.
Pihak kecamatan sudah mempertemukan antara pengelola pondok dengan
pihak lain, seperti ormas dan masyarakat yang menolak keberadaan pondok.
Hasilnya, pihak pondok pesantren menutup aktivitasnya.
Selain tak memiliki izin, keberaan pondok juga tidak sesuai
peruntukan. Pondok tersebut merupakan rumah tinggal yang dipergunakan
sebagai pondok pesantren khusus waria.
Terkait adanya pesta Miras, pengelola pondok Sinta Ratri mengaku
memang ada waria yang datang ke pondok dan menggelar pesta miras.
Namun, dia datang dari luar dan membawa sendiri miras untuk
dikonsumsi. “Itu diakui pengelola pondok, pernah ada pesta miras,”
pungkasnya.
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan
perkembangan Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) merupakan
sebuah tantangan dalam berdakwah.
“Bagi kami LGBT adalah sebuah tantangan dan obyek dakwah, mereka
harus dibantu untuk kembali kepada fitrahnya. Kami menganggap sebagai
warga negara dan umat Islam yang baik mereka sedang mengalami
disorientasi,” katanya kepada salam-online di Jakarta, Sabtu (27/2).
Maka, kata Dahnil, tugas Ormas Islam sangat dibutuhkan untuk membantu mereka, para pelaku LGBT ini, kembali ke jalan yang benar.
Aksi massif dan demonstratif mereka dalam menyebarluaskan virus LGBT
merupakan sebuah tantangan kepada Pemerintah dan masyarakat untuk
mengatasinya.
Berkaitan dengan aksi-aksi demonstratif yang mereka lakukan, ujar
Dahnil, jelas sangat mengganggu umat beragama dan mengancam anak-anak
muda Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang.
Lantas, bagaimana menyikapi para penggiat HAM yang mengatakan sikap
seseorang menolak LGBT termasuk ke dalam pelanggaran HAM, kata Dahnil,
pelanggaran dari sisi apa, itu perlu dipertegas.
“Yang mana pelanggaran yang kita lakukan? Wong kita justru mendorong
dan membantu mereka untuk kembali pada fitrahnya dan sembuh dari
sakitnya, kok (dituduh) melanggar HAM. Justru usaha kampanye dan aksi
seolah mengajak orang pada orientasi seksual seperti mereka itu yang
melanggar HAM dan masa depan peradaban,” tandasnya. (EZ/salam-online)
Seorang pria membawa poster dengan
tulisan ‘Islam bukan ISIS’ berjalan di sekitar kawasan Jakarta Timur,
dengan membawa ransel besar di punggungnya.
Sepanjang perjalanan, orang-orang melihat dengan heran,
beberapa memotret dan merekam aktivitas pria itu dengan kamera ponsel
mereka.
Muhamad Wahyu Priadi yang dipanggil Ahmad, mulai dikenal sejak fotonya muncul di Facebook.
Seorang wartawan majalah mingguan di Jakarta, Dion Hertasha mengunggah
fotonya ketika tak sengaja bertemu di jalan Pramuka Jakarta Timur, pada
akhir Januari lalu.
Fotonya telah dibagikan ke lebih dari 12 ribu pengguna Facebook lainnya.
“Saya
bertemu dengan pak Ahmad, saat melewati jalan Pramuka, lalu saya
berhenti mengobrol sebentar dan memfotonya, saya pikir apa yang dia
lakukan itu layak untuk disebarkan di media sosial karena mempromosikan
Islam yang damai, yang menolak kekerasan," jelas Dion. Sebagian besar pengguna memuji tindakan Ahmad dalam foto yang diunggah Doni, tetapi ada juga yang menanggapnya kurang kerjaan.
Akun Gibran Achmad menulis komentar " Jadi ngeri
mengenang negeri ini dibangun oleh umat Islam dan umat Islamlah yangg
banyak mengikuti ajaran dari luar Islam...lebih kepada dunia dan
memandang rendah ulama... serta yg mengerjakan sunnah. Semoga mas Ahmad
ini dapat menyadarkan umat Islam..."
Sementara akun Sahroji Putra Sang Pangeran menulis, "Ya mungkin orang ini kurang kerjaan kali ya biarin ajah aturan mah mas biar neraka penuh"
Saya
bertemu dengan Ahmad ketika dia beristirahat di Masjid Jayakarta
Jakarta Timur. Usai menyantap sarapannya, soto Surabaya, dia bercerita
tentang perjalanannya.
Dia mengaku mengawali perjalanan setelah
sembuh dari luka-luka yang dideritanya akibat kecelakaan mobil. Luka itu
menyisakan kakinya yang agak pincang jika berjalan, dan sebuah bekas
luka di leher.
“Saya memulai perjalanan sekitar 2014 lalu, dari Jakarta ke
Surabaya sebagai musafir, awalnya untuk lebih memahami apa itu Islam, “
jelas dia.
Dalam perjalanan itu, Ahmad mengaku sempat singgah di
sejumlah kota untuk belajar tentang pengobatan tradisional, mengurut dan
bekam. Dengan modal kemampuannya itu, dia pun dapat membiayai
perjalanannya.
“Saya menawarkan kepada orang-orang jika ada yang
mau dibekam, atau urut, tapi kadang ada juga sih para dermawan yang
memberi lebih, tapi saya tidak meminta-minta,” jelas dia.
Selama
perjalanan Ahmad mengaku lebih banyak menginap di masjid, kecuali jika
di kota itu dia memilki kenalan, di rumah merekalah dia akan tinggal.
Tetapi ketika ditanya tentang keluarganya, dia enggan menjawab. Ahmad mengaku dia membawa poster bertuliskan "Islam
bukan ISIS" sejak tahun lalu, karena dia merasa Islam seringkali
dianggap sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi setelah
kelompok ISIS menyebarkan tindakan brutal mereka melalui media.
"Bahkan
sempat juga ada orang mencurigai saya dalam perjalanan -mungkin mereka
menyangka saya bagian dari teroris, karena penampilan saya dan juga
membawa ransel besar," jelas Ahmad sambil tersenyum.
Ahmad mengatakan ISIS justru merusak nama Islam sebagai agama damai.
"ISIS..
ISIS.. kenapa malah merusak, berapa rasul didustakan, berapa agama
dinodai, berapa negara dihancurkan, Islam itu damai rahmatan lil alamin,
tapi apa yang dibuat, mengatasnamakan Islam buat teroris, Islam itu
tidak takut mati, tetapi bukan berarti tidak punya nurani,” ungkap
Ahmad. Ahmad mengatakan seharusnya kampanye Islam secara
damai juga dilakukan olah para pemuka agama, tapi dia meyayangkan
terkadang justru ada juga yang mengajarkan kekerasan dan saling
membenci.
"Itu terjadi kalau di masjid, ada juga dalam khotbah-khotbah di masjid seringkali menyampaikan ajaran radikal," jelas dia.
Hampir satu jam mengobrol, Ahmad pun melanjutkan perjalanan dan ketika ditanya kapan akan menghentikan perjalanannya.
"Saya
menyerahkan kepada Allah saya, selama masih bisa berjalan saya akan
terus melanjutkan perjalanan, karena banyak pengetahuan yang saya dapat
juga selama perjalanan," jelas dia sambil kembali mengendong ranselnya.
Written By Natla on Sabtu, 13 Februari 2016 | 20.44
Isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat terkait Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender (LGBT) jadi tema diskusi dua pekanan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang digelar di kantor lembaga kajian itu, di kawasan Kalibata Utara, Jakarta Selatan, Sabtu (13/2).
Menyikapi fenomena LGBT ini, Peneliti INSISTS Dr Wido Supraha selaku pemateri memfokuskan bahasannya pada “LGBT dalam Perspektif Islam”. LGBT, kata Wido, dijelaskan oleh Allah pada empat surat di dalam Al-Qur’an.
“Ada empat surat di dalam Al-Qur’an yang melarang LGBT, surat Al-A’raf ayat 80-84, surat Hud, surat As-Syu’ara ayat 165-166, dan surat Al-Ankabut ayat 28-29. Pemaknaan homoseksual sudah sangat jelas dan tegas ada di dalam Al-Qur’an, jadi untuk apa disangkal?” ungkap Wido Supraha.
Menurut dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini, LGBT termasuk ke dalam kejahatan ideologi.
“Ini kejahatan adalah kejahatan ideologi. Seseorang tidak dapat menjadi laki-laki dan perempuan secara bersamaan, dia mesti menjadi laki-laki atau perempuan,” tandasnya.
Ia mengatakan, perilaku LGBT jika dibiarkan sama saja membiarkan monster tumbuh berkembang di tengah masyarakat.
“Jika LGBT ini dibiarkan sama saja membiarkan monster tumbuh. Perilaku LGBT ini psikologinya terganggu,” jelasnya.
Mencegah penyebaran wabah penyakit menular seperti LGBT, ujar Wido, adalah dengan melakukan gerakan pemikiran (ghazwul fikr).
“Kita harus terus bergerak untuk mencegah LGBT semakin berkembang pesat. Media massa harus berperan aktif melawan perkembangan LGBT, selanjutnya perlu membuat gerakan sosialisasi di sekolah, seminar, biro konsultasi, dan lainnya,” tegasnya.
Written By Natla on Jumat, 12 Februari 2016 | 18.36
Sekitar 800 siswa SMP Negeri 1 Kota Jambi akan menggelar aksi simpatik menolak gerakan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender) dan perayaan hari Valentine.
Aksi deklarasi ini direncanakan akan dilangsungkan di lapangan sekolah SMP Negeri 1 Kota Jambi, Sabtu (13/2/2016) pagi.
Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Jambi, Nanang Sunarya mengatakan, sekitar 800 siswa akan mengikuti aksi ini. Nanang menilai geliat LGBT tak mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Gerakan LGBT dipandang mengancam moral generasi muda.
“Jika ini dipertontonkan di negeri ini maka akan merusak moral, anak didik kita pasti akan terpengaruh jika tidak dibendung. Ini bukan budaya Indonesia,” katanya seperti dikutip Tribunnews, Sabtu (13/2).
Nanang juga menilai, euforia valentine day bisa menjadi ajang bagi para LGBT untuk mengekspresikan hasrat seksual. Jika tak ada pengawasan dari pemerintah, dikhawatirkan justru akan menyasar para peserta didik.
“Termasuk valentine day kita tidak mendukung sama sekali. Jangan sampai disalah artikan, hari kasih sayang justru menjadi ajang untuk mengekspresikan gairah seksual,” katanya.
Written By Natla on Selasa, 09 Februari 2016 | 17.39
Inggris adalah rumah bagi lebih dari tiga juta Muslim untuk pertama
kalinya, demikian angka-angka baru dari Kantor Statistik Nasional
menunjukkan.
Jumlah muslim di negara ini telah meningkat tajam dalam lebih satu
dekade sebagai hasil dari imigrasi dan tingkat kelahiran yang tinggi.
Populasi Muslim sekarang sudah mencapai sekitar 5 persen dari penduduk
negara itu.
Di beberapa bagian London, hampir setengah populasi sekarang Muslim,
menurut analisis rinci oleh Kantor Statistik Nasional yang dipublis
koran Daily Mail (30/1/2016). Tren saat ini mereka akan menjadi mayoritas di daerah-daerah dalam satu dekade.
Setengah
dari mereka yang mengikuti Islam di Inggris dan Wales lahir di luar
negeri sementara yang berusia di bawah sepuluh tahun lebih banyak
dibandingkan kelompok usia lainnya, menunjukkan jumlah mereka akan
tumbuh lebih jauh di generasi yang akan datang.
Angka-angka baru yang diterbitkan untuk pertama kalinya bulan ini
menunjukkan bahwa ada 3.114.992 Muslim di Inggris, dimana hampir
separonya (1.554.022) lahir di luar negeri.
Sebagian besar – 1484060 – berasal dari luar Uni Eropa. Sebuah rincian yang diperoleh Daily Mailmenunjukkan
bahwa umat Islam jauh lebih muda daripada populasi umum. Satu dari
empat Muslim di Inggris dan Wales – 746.000 – berusia di bawah sepuluh
tahun. Di seluruh negeri, proporsinya sekitar satu dari tujuh.
Pada tahun 1991 jumlah Muslim di Inggris hanya di bawah satu juta –
950.000 – atau hanya 1,9 persen dari total populasi. Pada saat Sensus
berikutnya dekade kemudian, ada 1.546.626 Muslim di negara itu – tiga
persen dari total.
Tapi pada tahun 2011, populasi Muslim Inggris dan Wales mencapai 2.706.066 – mewakili 4,8 persen dari jumlah keseluruhan.
Kantor Statistik Nasional juga telah mengidentifikasi delapan daerah
di seluruh negeri di mana umat Islam memiliki populasi sejumlah besar
penduduk setempat.
Di wilayah East London Tower Hamlets penduduk Musim mencapai 45,6 persen pada tahun 2014, sementara di Newham ada 40,8 persen.
Jumlah Muslim 29 persen dari populasi di Blackburn; 26 persen di
Slough; 25,7 persen di Luton; 23 persen di Birmingham; 20 persen di
Leicester; dan 18 persen di Manchester.
Sementara Daily Mail memilih menafsirkan angka populasi Muslim
dalam konteks terorisme, radikalisasi dan imigrasi, juru bicara Dewan
Muslim Inggris mengatakan: “Statistik ini menyoroti keragaman di Inggris
modern, dan kebutuhan yang ini tercermin dalam semua bidang kehidupan,
dari peluang manajemen puncak untuk representasi politik.”