Written By Natla on Jumat, 04 November 2016 | 20.21
Sekalipun
tidak semua siswa di sekolah menengah atas (SMA) bisa ikut Pemilu, para
guru tetap memberikan pemahaman tentang proses pemilu kepada seluruh
siswa agar mereka memiliki pemahaman yang jelas.
Jasmine Hodge, siswa Galileo High School, tertarik mengikuti kelas pemahaman pemilu (government class). Tahun ini, ia tidak ikut memilih. Tapi dengan mengikuti kelas ini, ia punya bekal untuk Pemilu mendatang.
“Jika
saya mempelajari tentang pemilu sekarang, saya tidak akan mengalami
masalah jika saya mendapat kesempatan menuju bilik pemungutan suara dan
saya tidak akan mengkhawatirkan apa pun,” kata Jasmine dikutip Wset.
Hope
Adams, yang mengajar di George Washington High School, ingin para
siswanya memahami hak mereka di pemilu sejak jauh-jauh hari, hingga
kelak berusia 18 tahun. Bukannya baru paham saat sudah mepet pemilu.
“Kami
membahas tentang dampak langsung pemilu kepala negara bagian dan pemilu
kepada daerah terhadap para siswa, daripada pemilu kepala negara,” kata
Hope. “Namun penting bagi mereka untuk ikut pemilu mana pun.”
Sekalipun
tidak semua siswa SMA bisa ikut pemilu, tak ada salahnya memahami
pemilu sejak dini. Jasmine menyatakan, “Pahami pemilu sedari sekarang,
karena pada akhirnya kita harus bisa menentukan pilihan yang tepat.”
Pemilihan umum (Pemilu) Amerika Serikat tinggal
menghitung hari. Tepatnya, pada 8 November 2016. Jauh sebelum itu, para
guru mengajari para siswa tentang proses Pemilu secara keseluruhan.
Written By Natla on Jumat, 09 September 2016 | 20.03
Bahkan jumlah anak-anak
yang sering merasa cemas kini lebih banyak dibanding dari orang-orang
yang harus dirawat di rumah sakit karena mengalami kegelisahan, pada
1950-an.
Perasaan cemas atau khawatir itu cenderung menjadi
lebih intens dialami di masa-masa awal sekolah. Lantas, apa yang dapat
dilakukan oleh orang tua untuk menangani stres pada anak? Psikolog Klinis yang juga Direktur Pelatihan Child Mind Institute, Jill
Emanuele, menilai bahwa sangat penting untuk orang tua membiarkan anak
merasakan kecemasan tersebut sejak anak berada di sekolah dasar.
Pembiaran itu pun tak berarti pengabaian.
Sebuah survei tentang catatan kesehatan mental
mengungkapkan bahwa anak-anak pada era saat ini lebih rentan merasa
cemas, dibanding beberapa dekade lalu.
Namun orang tua harus membiarkan anaknya mampu mengalami perasaan cemas tersebut. Dilansir dari Time, Emanuele menilai, kata-kata yang mengelus hati anak mungkin dapat memberikan kenyamanan, namun itu sifatnya sementara.
Jika anak tak terbiasa menghadapi kecemasan, maka rasa gelisah yang selanjutnya akan datang pun terasa lebih besar.
Cara
yang paling baik menangani situasi seperti itu adalah dengan bertanya
kepada anak tentang apa saja yang mereka khawatirkan.
Orang tua pun harus memberikan strategi agar anak dapat menghadapi ketakutan mereka.
Penanganan pun harus dilakukan secara berbeda untuk menangani rasa gelisah anak yang sudah duduk di bangku sekolah menengah.
Dunia sosial yang baru tentu membuat mereka lebih stres, baik di dunia nyata atapun dunia maya, seperti media sosial.
Direktur
Senior dan Pendiri Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine,
Marilyn Wilcher, mengatakan salah satu cara untuk menanganinya adalah
dengan mengendalikan peralatan teknologi yang mereka gunakan.
"Batasi jumlah waktu anak bermain-main dengan gadget mereka, dari telepon pintar sampai komputer," kata Wilcher.
Masa
sekolah menengah juga menjadi umur yang baik untuk orang tua dan anak
bersama-sama memahami soal stres. "Stres biasanya datang secara
otomatis. Tapi kita harus bisa mengajarkan tubuh untuk bereaksi rileks,"
ujarnya.
Orang tua juga harus dapat membuka percakapan dengan
anak tentang strategi apa yang harus dilakukan untuk melepas stres yang
mereka rasakan. Bisa juga beraktivitas, dari yoga atau nyanyi.
"Cari cara apa pun yang dapat Anda lakukan untuk menghancurkan pikiran cemas yang menganggunya setiap hari," kata Wilcher.
Perbedaan
penanganan juga dilakukan untuk orang tua dengan anak yang duduk di
bangku sekolah menengah atas. Emanuele menjelaskan, hal itu dikarenakan
adanya perubahan signifikan pada otak anak.
Untuk orang tua,
strategi yang dapat dilakukan kepada anak usia sekolah menengah pertama
dapat terus dilanjutkan. Hanya saja ada langkah tambahan yang dapat
dibuat.
"Karena anak di usia tersebut sudah dekat dengan awal
masuk ke pintu masa dewasa, maka orang tua pun harus bisa
berkolaborasi," ujarnya.
Orang tua dapat membantu anak dengan
memberikan pandangan untuk mencapai kesuksesan. Mengingat anak akan
masuk ke lingkungan kuliah dan tahapan hidup yang lebih jauh lagi,
taruhannya pun akan semakin tinggi.
Para orang tua dapat membantu
mereka bahwa satu nilai yang kurang bukan berarti masa depan sudah
hancur atau tak punya kesempatan untuk bahagia. Jelaskan juga bahwa
pendidikan bisa didapatkan di mana saja.
Setelah melalui masa
itu, orang tua pun harus berhati-hati agar mereka tak malah menjadi
bagian yang membuat anak stres. "Jika anak melihat orang tua mereka
khawatir atau cemas, maka anak-anak akan merasa lebih khawatir," kata
Wilcher.
Di tempat lain, jika anak-anak melihat orang tua dapat
menangani stres dengan baik, maka mereka akan menjadikannya contoh dalam
hidup mereka.
Artinya, hal utama yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu
anak menangani stres adalah dengan mengurangi stres di diri mereka
sendiri.
Makanan dan seks selalu memiliki hubungan yang rumit. Barangkali sama rumitnya dengan kisah percintaan masa kini.
Mengajak
pasangan untuk makan malam bersama dianggap sebagai cara kencan
'klasik' yang relatif aman. Sedangkan membuat makan malam di rumah Anda
sendiri dapat memberikan impresi yang jauh lebih positif.
Namun
sama seperti menjalani hubungan, seks dan makanan ternyata tidak selalu
akur. Ada beberapa makanan yang jika dikonsumsi malah akan merusak
gairah terhadap pasangan.
Karena itu, jika tak ingin kencan atau
hubungan rusak setelah makan malam, sebaiknya Anda menghindari memasak
ataupun mengkonsumsi beberapa makanan ini. Dilansir dari Foodbeast, ada sepuluh makanan yang mampu membunuh gairah Anda.
1. Keju Meski
sajian keju dapat menjadi cara berkelas untuk menarik perhatian
pasangan Anda saat berkencan, namun keju ternyata juga dapat menjadi
tiket untuk Anda merasa tak bergairah.
Beberapa hormon yang ada
di dalam produk-produk susu, seperti keju, dapat membuat hormon
seseorang berantakan, baik estrogen atau testosteron. Tentunya ketika
hormon sudah acak-acakan, gairah pun akan melemah.
(Thinkstock/Magone)
2. Daun Mint Lupakan niat baik untuk menjadikan
daun mint sebagai permen andalan sebelum berciuman. Kandungan mentol di
daun mint bakal menurunkan testosteron yang tentu berpengaruh dengan
hasrat seks.
Untuk membuat mulut tetap segar, coba makanan dengan aroma buah-buahan, agar libido juga tetap segar.
3. Sereal Jagung Dokter
penemu sereal jagung, John Harvey Kellog, yakin bahwa makanan yang
manis atau pedas dapat membuat hasrat seseorang meradang alias memanas.
Sedangkan cara untuk menekan libido adalah dengan makanan yang hambar, seperti sereal tanpa gula.
Memang
tidak diketahui apa alasan persepsi 'kejam' Kellog tersebut. Hanya
saja, tidak mungkin rasanya jika dia menciptakan sereal dengan rasa
hambar demi membunuh hasrat seks konsumennya.
Besar kemungkinan, sereal dapat membunuh hasrat karena kandungan karbohidrat dan biji-bijian di dalamnya.
4. Kopi Berencana
untuk terjaga sepanjang malam untuk dapat bermesraan dengan pasangan,
tentu kopi bukan jawabannya. Jika kopi membuat Anda gelisah, maka
sebaiknya Anda tak meminumnya sebelum bercinta.
Orang-orang yang sensitif dengan kafein, akan mengalami rasa gelisah, yang akhirnya dapat menurunkan gairah seks.
5. Cokelat Anda
mungkin terkejut dengan masuknya produk cokelat ke dalam daftar ini.
Tentu saja karena cokelat sudah sejak lama dikenal sebagai makanan
mengandung afrodisiak.
Meski kemampuannya untuk meningkatkan
gairah seks berlaku untuk kaum wanita, ternyata hal yang sama tidak
dialami oleh pria. Karena sebenarnya, cokelat ternyata dapat menurunkan
tingkat testosteron dan menurunkan kemampuan seks kaum pria secara
drastis.
(Pixabay/Condesign)
6. Popcorn dari Microwave Menghabiskan waktu bersama pasangan dengan menonton film di Netflix
di rumah maka akan membuat Anda harus menyiapkan beberapa jenis
camilan. Membeli popcorn yang bisa dimasak di rumah sebaiknya dihindari.
Tak hanya demi seks Anda, namun makanan ini juga menjadi pemicu beberapa masalah kesehatan. Kandungan kimia seperti perfluorooctanoic acid terdapat di kantung popcorn.
Bukan cuma membunuh libido Anda, namun ada efek jangka panjang yang dapat menyebabkan masalah prostat untuk kaum pria.
7. Makanan yang Digoreng Menyantap
camilan yang digoreng sebelum bercinta dianggap dengan niat menyabotase
kehidupan percintaan Anda sendiri. Hal itu dikarenakan, makanan yang
digoreng ataupun makanan yang memiliki kandungan lemak tinggi dapat
membuat seseorang merasa cepat lelah dan lamban.
Tentu saja hal
itu sangat tidak seksi. Lebih buruk lagi, lemak dan minyak yang
terhidrogenasi dapat menekan kadar testosteron pria.
8. Alkohol Minum
alkohol mungkin membuat seseorang percaya diri untuk memberikan sinyal
undangan bercinta kepada pasangan. Namun, tingginya keberanian itu tak
sebanding dengan kemampuan seks setelahnya.
Alkohol diketahui mampu menurunkan tingkat testosteron dan membatasi fungsi seks pria, juga wanita.
9. Permen Akar Manis Lewatkan saja camilan ini jika Anda berencana menghabiskan malam bersama pasangan setelah menonton bioskop.
Mengingat kandungan alami glycyrrhizin dalam permen itu, mengonsumsi permen yang dikenal dengan sebutan licorice itu bakal menekan libido dan menurunkan tingkat testosteron.
10. Soda Diet Sudah
banyak diketahui bahwa minum soda diet sama buruknya dengan minum soda
pada umumnya. Makan dan minum produk dengan pemanis buatan, khususnya aspartame, dapat langsung memengaruhi tingkat serotonin Anda, hormon vital yang memengaruhi baik libido wanita ataupun pria.
Tak ada orang yang menginginkan perceraian. Dan yang seringkali tak
disadari adalah selalu banyak cara untuk memperbaiki sebuah hubungan
yang tengah berada dalam badai pernikahan.
Psikolog Antonio
Borrello mengatakan, bila masalah yang ada dalam hubungan tak kunjung
usai meski sudah datang ke konsultan perkawinan, maka tak banyak hal
yang bisa dilakukan untuk pasangan itu.
"Kebanyakan pernikahan dapat pulih dari periode singkat kekisruhan dalam
pernikahan, atau komunikasi yang buruk, serta konflik," kata Borrello
seperti dilansir Huffington Post.
"Namun bagi sebagian
pasangan, periode ketidakbahagiaan ini justru berlangsung semakin lama,
komunikasi semakin lemah, dan pertentangan serta konflik memicu emosi,
benci, dan apatis. Ini memaksa pasangan untuk saling introspeksi,"
lanjutnya.
Menurut Borrello dan beberapa terapi pernikahan, ada
beberapa sebab lelaki akhirnya memutuskan menyerah dan meninggalkan
pernikahan mereka meski sudah berjuang untuk tetap bertahan.
1. Merasa tak dihargai
Meski
sering disebut tak peka, namun lelaki adalah makhluk yang butuh rasa
penghargaan. Ketika itu tak didapat dari keluarga atau lingkungan
terdekatnya, maka yang muncul adalah kebencian bukannya cinta.
"Selain
terhubung secara seksual dan emosional, syarat terbesar dari pernikahan
adalah memahami bahwa ini bukan hanya terkait duniawi," kata Alexandra
H. Solomon, psikolog Family Institute di Northwestern University.
"Pria dan wanita yang tidak diapresiasi dan merasa kecewa dengan kenyataan pernikahan mereka rentan untuk bercerai," lanjutnya.
2. Berselisih dengan pasangan
Berselisih
dengan pasangan dapat disebabkan oleh beragam alasan, dari hal yang
sepele seperti toilet yang terbuka hingga masalah besar. Namun, masalah
pengelolaan keuangan adalah salah satu hal sensitif dalam rumah tangga,
terutama bila keputusan tentang keuangan tak membuat puas salah satu
pihak.
Hal ini diakui psikoterapis F. Diane Barth. Ia mengaku
dicurhati banyak suami. Mereka mengeluhkan istri yang terlalu boros
dalam mengelola keuangan keluarga. Tidak hanya boros, para suami ini
semakin kesal karena istri seolah tak 'berterima kasih' sudah diberi
nafkah.
3. Perselingkuhan
Banyak orang
sepakat perselingkuhan merusak hubungan rumah tangga. Namun menurut
Borrello, ketika seorang lelaki terlibat perselingkuhan, sudah bisa
dipastikan ada faktor pemicunya. Namun, sulit mengetahui banyaknya
faktor yang membuat akhirnya ia terlibat di dalam perselingkuhan
tersebut.
"Yang pasti, tidak mungkin sebuah perselingkuhan terjadi dalam pernikahan yang bahagia," katanya.
4. Merasa tidak mampu
Menurut
Solomon, ketika seorang pria berusaha mengendalikan pernikahan atau
pasangan, maka mereka lalu bertemu dengan 'jalan buntu'. Hal itu dapat
menjadi akhir dari sebuah hubungan.
"Ketika istri merasa sang
suami terlalu mengekang, maka istri akan makin mengkritik. Semakin
dikritik, sang suami makin merasa tak mampu mengendalikan pernikahan itu
dan mendorong ia untuk berpaling. Ini siklus setan," kata Solomon.
5. Merasa tak lagi cocok
Alasan
ini terdengar klise. Namun menurut Bart, hal ini seringkali terjadi.
Dan bagi Anda yang akan menikah, kenyataannya adalah bila ingin tetap
bersama, maka Anda dan pasangan harus terus tumbuh bersama-sama atau
justru akan terjebak dalam risiko perceraian.
6. Seks
Seks
memang menjadi bumbu perekat sebuah hubungan. Namun ketika seks sudah
membayangi seorang lelaki, maka teror tersebut terasa lebih mengerikan
dibanding apapun.
"Ini adalah ketakutan tak terucap dari seorang
pria bahwa ia tak lagi atraktif dalam seks," kata Barth. "Perasaan ini,
kadang muncul tanpa disadari oleh pria itu sendiri."
7. Tak merasa kebutuhan mereka disadari
Solomon
mengatakan bila sebuah pernikahan mulai terasa sulit, maka yang
dibutuhkan pada dasarnya adalah rasa empati antar pasangan. Ketika suami
merasa sang istri mulai tak menyadari kehadirannya atau melupakan
hubungan mereka, maka pria tersebut akan merasa kecewa.
"Kecuali
bila pasangan punya kesempatan membangun kembali ikatan emosional di
antara mereka, sang suami dapat merasa putus asa akan hubungan
keduanya," kata Solomon.
"Rasa putus asa sangat menyakitkan dan
menjadi racun bagi hubungan rumah tangga. Kondisi ini meningkatkan
risiko perceraian. Pada akhirnya, masing-masing pihak butuh untuk diakui
apa yang dianggap masalah oleh pasangannya."
Apa yang membuat Anda bahagia? Punya orang yang dicintai? Liburan? punya
banyak uang? atau hal lainnya? Tiap orang pasti punya standar yang
berbeda-beda.
Namun mengutip Huffington Post, semua hal itu
dianggap tak bisa memberikan kebahagiaan untuk Anda. Untuk menemukan
kebahagiaan, peneliti menciptakan sebuah rumus panjang dalam hitungan
matematika.
Peneliti dari University College London menemukan
formula kebahagiaan menemukannya pada tahun 2014 lalu. Dan saat ini,
rumus tersebut diperbaharui berdasarkan data baru yang disebut sebagai
in the moment inequality.
"Ketidakseimbangan akan mengurangi
kebahagiaan rata-rata, baik ketika orang mendapatkan lebih banyak atau
ketika mereka mendapatkan kurang dari orang-orang yang ada di sekitar
mereka," kata penulis penelitian Robb Rutledge, peneliti dari University
College London.
Dengan kata lain, Anda akan menjadi lebih
bahagia ketika memiliki situasi dan kondisi yang sama seperti orang
lain. Tapi jika orang yang ada di sekitar kita berada dalam kondisi yang
lebih baik atau kurang beruntung, Anda akan menjadi kurang bahagia.
Reaksi ini kemudian akan smembuat Anda kemudian jadi lebih atau kurang
murah hati kepada orang lain.
Untuk mencapai kesimpulan,
peneliti melakukan tes kepada 47 peserta yang tak mengenal satu sama
lain. Mereka diberikan tugas lengkap berpasangan, dan mereka menjadi
mitra sosial.
Di tugas pertama, relawan diminta untuk menentukan
bagaimana mereka harus membagi sejumlah uang kepada orang lain yang
mereka temui. Tugas berikutnya, mereka mempertaruhkan uang dan
diberitahukan tentang hasil orang lain dalam permainan yang sama. Mereka
kemudian diberi pertanyaan tentang apakah mereka ingin membagi uang
seperti yang mereka lakukan dalam tugas pertama. Sepanjang proses,
peneliti memeriksa dan bertanya soal seberapa bahagianya mereka saat
itu.
Rata-rata orang merasa kurang bahagia ketika mereka
memenangkan permainan judi sedangkan pasangan mereka kalah. Peneliti
mengungkapkan, hal ini mungkin terjadi karena perasaan bersalah.
Demikian pula ketika peserta kalah berjudi sedangkan pasangan mereka
menang. Mereka merasa kurang senang, kemungkinan karena iri.
"Ini
adalah pertama kalinya diungkapkan bahwa kemurahan hati seseorang
secara langsung terkait dengan bagaimana ketidakseimbangan kebahagiaan
mereka," kata para penulis.
Dalam rumus aslinya di tahun 2014,
kebahagiaan saat ini hanya bergantung pada harapan Anda. Artinya,
kebahagiaan itu bukan pada seberapa baik hal yang Anda lakukan saat ini,
tapi bahagia itu jika Anda melakukan hal yang baik dibanding yang
diantisipasi. Namun Rutledge serta timnya kini menemukan bahwa harapan
itu hanyalah sepotong teka-teki bahagia.
"Banyak hal yang bisa
memengaruhi kebahagiaan kita dan dengan persamaan ini mulai dijabarkan
bahwa beberapa bagian variabel penting termasuk imbalan, harapan, dan
apa yang terjadi pada orang lain."
Kaum perempuan kebanyakan mengetahui akan menstruasi ketika sudah mengalami sindrom bernama PMS atau Premenstrual Syndrome. Beberapa wanita melakukan penghitungan periode masa subur berdasarkan waktu menstruasi.
Namun kini ada sebuah aplikasi yang memudahkan memantau siklus kewanitaan. Tidak hanya itu, aplikasi tersebut juga disebut-sebut dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berhubungan seks.
Dokter bernama Friesca Vienna Saputra adalah dalang dari aplikasi bernama Ovula. Aplikasi ini pada dasarnya membantu wanita untuk mengetahui tanda yang terjadi di daerah kewanitaan dan membantu memahami siklus hingga memantau kesuburan.
"Kebanyakan perempuan belum tentu mengetahui sebenarnya kapan ia akan menstruasi. Kebanyakan mereka ketika menstruasi ya sudah. Bahkan ada yang salah menyangka tanda yang terjadi, misal tanda kesuburan dikira keputihan," kata Friesca Vienna Saputra ketika ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, pekan lalu.
Friesca menggunakan sebuah metode pemantauan kondisi kesehatan area kewanitaan bernama Metode Ovulasi Billing atau MOB. Metode ini sudah terdaftar di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak dekade 1990an.
MOB meminta penggunanya untuk melaporkan perubahan ataupun kejadian yang terjadi di area intim dan kemudian dapat menganalisis kondisi yang tengah terjadi. Pengamatan dapat berupa perubahan kadar kelembaban, cairan yang keluar, aroma, bahkan sensasi seperti gatal.
Dari data yang dimasukkan dalam aplikasi akan muncul rekap mirip seperti tabel yang dapat menunjukkan siklus yang terjadi pada reproduksi wanita, termasuk mencegah atau mengupayakan kehamilan.
"Bahkan dapat direncanakan kapan melakukan hubungan seksual untuk hal yang lebih spesifik seperti mendapatkan anak laki-laki atau perempuan," kata Friesca.
Friesca menjamin keakuratan metode ini hingga lebih dari 90 persen karena berdasarkan real time. Pengguna harus mengisi data tiga kali dalam sehari. Karena berisi data pribadi, soal keamanan data pun sudah diperhitungkan Friesca.
Menurut dokter lulusan Universitas Atma Jaya ini, hanya dalam pengisian data selama tiga bulan maka pola siklus kewanitaan seseorang dapat terlihat. Namun karena siklus kewanitaan dipengaruhi banyak faktor, maka hal kecil seperti kondisi kesehatan dapat sangat berpengaru h
Membesarkan anak dengan kondisi autisme bukanlah hal yang mudah
dijalankan untuk para orang tua. Anak autis yang kadang asik dengan
dunianya sendiri dan lamban dalam merespon komunikasi membuat orang tua
membutuhkan kesabaran lebih. Belum lagi stigma negatif yang melekat
dengan kondisi ini.
Berdasarkan pengalaman orang tua anak autis
yang CNNIndonesia.com temui, beberapa langkah berikut dapat dilakukan
oleh orang tua untuk menghadapi anak yang berkebutuhan khusus.
1. Menerima kondisi autisme. Menerima
hal yang tak diinginkan memang tak mudah. Ini juga yang dialami oleh
Lusiana Handoko saat mengetahui sang anak ternyata memiliki autisme.
"Sehabis
tes berupa daftar pertanyaan tentang perilaku anak, dokter saya bilang
anak saya autisme. Saya tanya lalu bagaimana, sang dokter bilang saya
harus menerima terlebih dahulu baru akan dijelaskan," kata Lusiana di
acara Autism Awareness Month di Grand Indonesia, Rabu (6/4).
2. Lebih bersabar. Makna
penerimaan ternyata baru terasa setelah sang anak, Gevin, mulai
beranjak dewasa. Lusi harus menghadapi berbagai tingkah Gevin yang
kadang asik dengan dunianya sendiri. Belum lagi dengan berbagai terapi
yang mesti dilakukan, semakin besar anak autis, orang tua mesti lebih
bersabar.
"Sebenarnya kendala yang besar itu datang dari diri
sendiri. Capek memang, tapi hadapi kenyataan yang ada. Saya juga
tersemangati begitu melihat ada teman yang lebih keras usahanya mengurus
anak autis dibanding saya," kata Lusi.
3. Saling berbagi. Lusi menilai, saling berbagi
informasi antar orang tua anak autis sangat membantu dalam menghadapi
dan membesarkan anak autistik. Seperti sebuah sistem penyokong, saling
berbagi bukan hanya menguatkan namun juga memberikan informasi serta
mencegah kesalahan yang pernah dilakukan orang lain.
"Jangan malu
untuk membuka diri kepada orang lain. Kesediaan untuk terbuka itu
justru dapat mendatangkan berbagai info yang bisa berguna ketika
mengurus anak," kata Lusi.
4. Pilah-pilih informasi. Berbagai
informasi tentang autisme banyak tersebar di dunia maya. Lusi pun
pernah menghadapi banyaknya komentar, tanggapan, ataupun mitos tentang
berbagai terapi untuk anak autis. Tapi tak semuanya benar, baginya untuk
anak keputusan orang tua sangatlah harus dipikirkan dengan masak.
"Semua
informasi yang saya dapatkan saya kumpulkan dan saya pilih. Pokoknya
saya mau yang logis, kisah suksesnya juga lebih banyak. Lalu saya
konsultasikan lagi dengan dokter," kata Lusi.
"Namun seringkali ketika bertemu dengan dokter, anak dalam kondisi tidak
bermasalah. Sehingga akhirnya saya dokumentasikan semua kejadian dengan
video. Ketika saya bertemu lagi dengan dokter, saya konsultasikan
beserta video itu," lanjutnya.
"Dokumentasi sangat membantu,
apalagi ketika sang anak kemudian sadar kondisinya ketika 'kumat'. Jadi
muncul keinginan untuk tidak mau menjadi seperti itu. Lagipula, bisa
jadi bahan pembanding perkembangan," katanya.
5. Jangan jadikan olokan. Pakar
autisme, Melly Budhiman, mengisahkan pernah ada seorang anak autis yang
dengan diterapinya berhasil masuk sekolah reguler seperti Sekolah
Menengah Kejuruan. Melly menganggap hal seperti ini adalah kemajuan bagi
seorang penderita autis.
Namun ternyata sang anak tersebut
menjadi bahan olokkan dan bullying oleh tiga temannya. Sang anak
mendapatkan tindakan kekerasan hingga gendang telinganya pecah.
Akibatnya, sang anak mengalami trauma dan tak ingin kembali ke bangku
sekolah.
"Ini sangat sayang, padahal anaknya pintar dan potensinya bagus," kata Melly.
"Kalau
saya, saya lebih baik anak diingatkan oleh keluarga besarnya
dibandingkan orang lain. Sehingga ketika ia mulai mengoceh, saya minta
keluarga saya mengingatkan ia, bisa seperti 'sudah dong, ganti topik lain' atau yang lainnya. Ini juga melatih dia untuk mengendalikan diri ketika berhadapan orang lain," kata Lusi.
6. Tidak lupa istirahat. Menghadapi anak autis
diakui Lusi cukup melelahkan. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar
juga mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar.
"Saya kalau
capek ya jalan-jalan bersama teman-teman. Itu saya lakukan ketika saya
tidak ingin berurusan dengan autisme dahulu. Ada juga teman saya kalau
sudah capek justru ia sikat WC, karena itu metode untuk menenangkan
dia," katanya.
"Penting juga untuk mempunyai teman-teman orang
tua yang non-autis, jangan orang tua dengan anak autis semuanya. Jalan
sama mereka. Jadi nanti begitu kembali ke rumah sudah segar dan bisa
lebih sabar," kata Lusi.
"Karena kalau tidak seperti itu,
lama-lama jadi hilang kesabaran dan gampang stress, dan kondisi seperti
itu membuat rumah menjadi tidak enak yang jadinya akan berdampak ke anak
lagi." jelasnya.
Written By Natla on Jumat, 12 Februari 2016 | 18.33
Perceraiansepatutnya tidak pernah terjadi dalam pernikahan. Berbagai alasan membuat banyak orang lebih memilih untuk bercerai daripada berusaha mempertahankan pernikahan. Sayangnya, kebanyakan alasan seseorang bercerai hanyalah karena masalah sepele yang sebenarnya dapat segera diatasi.
Mengapa Seseorang Bercerai?
Berikut ini beberapa problem yang sering dijadikan alasan seseorang bercerai. Lima alasan yang sering dijadikan alasan bercerai yaitu:
Alasan 1: Saya merasa jauh dengan pasangan saya
Penyebab: Pekerjaan mungkin mengharuskan Anda dan psangan menghabiskan waktu yang cukup lama secara terpisah. Waktu yang dihabiskan untuk berkumpul dengan teman, melakukan hobi juga menjadikan semakin sedikit waktu yang dihabiskan dengan pasangan hidup.
Solusi: Coba periksa kembali jadwal Anda. Prioritaskan waktu untuk dihabiskan bersama pasangan.
Pekerjaan mungkin tidak dapat dielakkan, tetapi waktu-waktu yang Anda habiskan untuk sekadar jalan dengan teman atau melakukan hobi dapat dikurangi. Atau, ajaklah pasangan Anda melakukan hal tersebut bersama-sama. Secara teratur, sisihkan waktu untuk berbicara dan menceritakan perasaan masing-masing, misalnya setengah jam sebelum tidur. Kebersamaan pada sepasang suami istri menjadi sesuatu yang penting untuk kelangsungan pernikahan.
Alasan 2: Saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan dan butuhkan dari pernikahan
Penyebab: Sebagai manusia yang tidak sempurna, memang kita terbiasa memikirkan apa yang dapat diperoleh. Akibatnya, kecenderungan manusia adalah melihat sisi negatif dari pasangan.
Solusi: Janganlah berpikir untuk memperoleh sesuatu dari pernikahan Anda. Sebaliknya, kembangkan semangat memberi pada pasangan tanpa mengharapkan imbalan.
Alasan 3: Kami sudah tidak cocok, tidak ada rasa cinta dan respek antara saya dan dia
Penyebab: Kesibukan, seringnya pertengkaran atau pikiran negatif kepada pasangan dapat menghancurkan rumah tangga.
Solusi: Untuk menumbuhkan kembali rasa cinta dibutuhkan upaya dari kedua belah pihak. Berlibur berdua dapat menjadi pilihan. Tetapi, yang lebih utama adalah berusaha agar menjalankan kewajiban sendiri. Misalnya, sebagai istri, berupayalah menjadi istri yang baik dengan menunjukkan espek kepada suami. Ini akan membuat suami dihargai dan akan menyayangi Anda. Begitu pula dengan suami yang tidak bertindak diktator dalam memimpin rumah tangganya dan jadikan istri sebagai partner bukan sebagai pesuruh.
Alasan 4: Saya tidak tahan dengan kebiasaan buruknya, dia sangat berbeda dengan saat masih berpacaran yang tampak sempurna
Penyebab: Pasangan Anda mungkin memiliki kebiasaan yang tidak Anda sukai. Walau Anda sudah memintanya untuk berubah, tetapi kebiasaan ini selalu diulangi lagi. Kebiasaan terlambat, berantakan atau boros sering menjadi hal yang mengganggu.
Solusi: Hindari untuk berfokus pada kebiasaan padangan yang menjengkelkan. Hal tersebut hanya akan membuat Anda dan pasangan semakin jauh. Cobalah ingat-ingat kembali, apa yang membuat Anda jatuh cinta pada pasangan. Berfokuslah pada hal-hal baik tersebut yang akan membuat Anda semakin mencintai pasangan.
Alasan 5: Suami saya tidak dapat memimpin keluarga dan selalu membuat keputusan yang salah
Penyebab: Karena suatu keputusan yang dibuat pasangan tidak menghasilkan hasil yang baik, membuat Anda tidak lagi mempercayai pasangan. Kasus lain, suami tidak mau membuat keputusan dan meyerahkan semua keputusan pada Anda.
Solusi: Sebuah keluarga hendaknya dipimpin seorang suami. Coba periksa diri Anda, apakah selama ini Anda terus-menerus mengungkit kesalahan pasangan. Hal ini dapat menghancurkan perkawinan Anda. Sebaiknya, sebagai istri, Anda mendukung suami dan memujinya dengan tulus. Bersikaplah respek terhadap suami karena hal ini sangat dihargai suami sebagai kepala keluarga. Ini tidak berarti sebagai istri hanya dapat selalu menurut. Jika ada suatu pendapat yang tidak sesuai, sebaiknya dibicarakan dengan baik-baik, dengan nada suara yang lembut dan dalam waktu yang tepat.
Berupayalah untuk selalu berpikiran positif pada pasangan, ciptakan suasana yang penuh cinta dan upayakan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat. Sebuah pernikahan tidak selalu harus diakhiri dengan bercerai meski terdapat berbagai alasan untuk bercerai. Menikmati perkawinan yang bahagia memang tidak mudah. Suami dan istri perlu memelihara perkawinanagar dapat terus berjalan.
Written By Natla on Jumat, 22 Januari 2016 | 17.17
Bagi para orang tua baru, memiliki anak pertama rasanya menjadi mimpi indah yang terwujud.
Tapi, kehadiran anak pertama ternyata juga membawa stres baru bagi sebagian ibu, apalagi bila sang anak masih di bawah dua tahun. Tak jarang mereka kehilangan waktu tidur karena harus mengurus bayi mulai dari mengganti popok, menyusui hingga meninabobokkan.
Kondisi tersebut merupakan salah satu dari beberarap faktor yang dapat meningkatkan tingkat stres seorang ibu.
Namun dalam sebuah penelitian yang dipublikasi dalam Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor, edisi Mei 2015 menemukan bahwa peran ayah dapat sangat membantu mengurangi tingkat stres ibu dalam mengasuh anak pertama di bawah usia dua tahun.
Penelitian oleh Dian Yunita Sari, Diah Krisnatuti, dan Lilik Noor Yulianti dilakukan terhadap 120 ibu yang menjadi koresponden, 60 orang merupakan ibu bekerja dan 60 orang merupakan ibu tidak bekerja. Semua memiliki anak pertama di bawah usia dua tahun.
Dukungan sosial, misalnya dari ayah, orangtua atau mertua, dalam mengasuh anak ternyata sangat membantu ibu dalam mengurangi stres.
Dari hasil penelitian ini juga terungkap secara statistik bahwa ada korelasi antara tingkat pendidikan ayah terhadap stres yang dimiliki ibu dalam mengasuh anak.
"Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan orang tua menentukan stres ibu, dalam hal ini pendidikan yang berpengaruh terhadap stres ibu adalah pendidikan ayah," tulis tim peneliti.
"Ayah yang berpendidikan tinggi dapat membantu pasangannya dalam menghadapi masalah sehingga ketegangan dan juga stres yang dialami oleh ibu berkurang."
Menurut pemaparan tim penulis, pendidikan orang tua yang tinggi memengaruhi tingginya strategi penanggulangan stres, membuka peluang bagi ayah untuk memiliki pekerjaan yang baik, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga yang berujung dapat mengurasi stres ibu.
Banyak Pengeluaran, Stres Berkurang
Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa ibu rumah tangga tidak dijamin bebas dari stres akibat mengasuh anak. Untuk sumber stres individu akibat kesulitan ibu dalam mengasuh anak, ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) memiliki kadar sumber stres individu tinggi lebih banyak dibanding ibu bekerja, yaitu 53 persen berbanding 48 persen.
Selain itu, pembagian waktu bagi untuk anak dari ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja juga tidak jauh berbeda. Rata-rata, seluruh ibu menghabiskan empat hingga delapan jam waktunya untuk anak.
Sebanyak 76 persen ibu bekerja menghabiskan waktu empat hingga delapan jam untuk anak, sedangkan ibu tidak bekerja sekitar 68 persen. Hanya sepuluh persen ibu tidak bekerja dan tiga persen ibu bekerja yang menghabiskan waktunya lebih dari delapan jam untuk mengasuh anak.
Penelitian ini juga menemukan bahwa satu keluarga rata-rata mengalokasikan 42,4 persen dari total pengeluarannya untuk kebutuhan anak seperti makanan, pakaian, popok, hingga mainan dan pengasuh. Keluarga yang memiliki ibu bekerja mengalokasikan lebih besar, sekitar 50 persen, sementara keluarga dengan ibu tidak bekerja hanya sekitar 43 persen.
Meski terhitung tinggi, ternyata pengeluaran untuk anak berkorelasi negatif terhadap stres ibu saat mengasuh. Hal ini berarti semakin besar pengerluaran untuk kebutuhan anak maka semaki rendah stres ibu.
"Tujuan utama ibu adalah agar anaknya bahagia dan memberi stimulasi psikososial yang baik, setelah memastikan kebutuhan dasar seperti gizi, pakaian, keamanan dan kenyamanan yang memadai," tulis tim penulis.
Para ibu disarankan belajar cara pengasuhan anak untuk menemukan solusi yang tepat dalam menangani masalah pada anak yang akan mengurangi tingkat stres.
"Orang tua hendaknya meningkatkan pendidikannya. Stres ibu dalam mengasuh anak juga meningkat ketika pengeluaran keluarga untuk anak naik, sehingga keluarga diharapkan menjadi keluarga sejahtera yang mampu memenuhi kebutuhan anak. "
Written By Natla on Sabtu, 09 Januari 2016 | 00.54
Banyak orang yang mengganggap perkawinan bukan sebagai hal serius. Dengan mudahnya, pasangan suami-istri memutuskan bercerai hanya karena masalah yang sepele. Perceraian bukanlah hal yang baik, karena ini akan menguras emosi dan pikiran. Terlebih bagi seorang anak, perceraian akan menyakitkan dan menjadi pengalaman yang buruk. Agar perkawinan Anda langgeng, ingatlah 5 prinsip penting perkawinan yang wajib diterapkan.
Sadari perkawinan sebagai ikatan yang suci
Ingatlah, bahwa perkawinan bukanlah sebagai sarana main-main atau hanya untuk senang-senang. Berpikir seperti itu akan membuat Anda mudah berpikir bahwa jika tidak merasakan kesenangan, Anda dapat mengakhiri perkawinan. Perkawinan akan mempersatukan Anda dan pasangan seumur hidup.
Dalam perkawinan, Anda berikrar untuk saling mengasihi, maka patuhilah ikrar tersebut. Ingatlah kepada siapa Anda telah berikrar, ini akan membantu Anda untuk terus mempertahankan perkawinan.
Menjadi suami yang bertanggung jawab
Suami sebagai kepala keluarga harus bertanggung jawab kepada keluarganya. Suami wajib menyediakan kebutuhan rumah tangganya baik secara materi maupun psikis. Jadi, tidak cukup hanya dengan uang atau materi, tetapi suami harus mengasihi istri dan anaknya, menyediakan waktu untuk mereka dan membuat anggota keluarganya merasa dikasihi. Suami yang baik akan memimpin keluarganya tanpa semena-mena. Ketika akanmengambil keputusan, suami dapat meminta pendapat istrinya dan mempertimbangkannya. Hal ini akan membuat istri merasa dihargai dan akan memperkuat ikatan di antara mereka.
Menjadi istri yang mendukung suami
Istri hendaknya tidak menganggap suami sebagai saingan dan merasa harus lebih unggul. Sebaliknya, istri akan mendukung suaminya menjalankan keputusannya. Istri perlu mempertunjukkan respek yang patut kepada suami dan mengasihi anak-anaknya. Istri dapat memperhatikan keperluan keluarganya dan malakukan hal-hal yang akan membuat nyaman keluarganya.
Bersikap realistis
Dalam perkawinan, sangat mungkin timbul kesultan-kesulitan yang seringkali menjadi alasan perceraian. Berbagai kesulitan tersebut misalnya, problem ekonomi, masalah kesehatan, kesukaran dalam mengasuh anak, kata-kata yang kasar, dan berbagai kesulitan lainnya.
Namun dengan bersikap realistis, pasangan suami istri akan berupaya mengatasinya, karena mereka telah menyadari bahwa kehidupan perkawinan tidak selalu mulus, tidak selalu berisi hal-hal yang indah, melainkan mereka juga harus dapat melewati kesulitan-kesulitannya.
Memang tidak mudah keluar dari kesulitan perkawinan, tetapi dengan cinta, komitmen bahwa perkawinan adalah ikatan yang suci serta pengetahuan yang tepat, pasangan suami istri dapat mengatasi hal-hal yang dapat memisahkan mereka.
Saling setia
Tidak peduli apa yang tengah dihadapi, suami atau istri tidak menjadikan hal ini sebagai alasan untuk berselingkuh. Berfokuslah pada pasangan Anda. Berpikir mencari pasangan baru bukan merupakan solusi. Perselingkuhan adalah hal yang paling merusak sebuah perkawinan. Ini akan memperburuk kehidupan perkawinan Anda karena akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari pasangan. Maka, jangan sampai tergoda untuk melakukannya.
Prinsip-prinsip diatas mungkin terlihat kuno, tetapi cobalah untuk menerapkannya, agar perkawinan Anda sukses dan langgeng.
Written By Natla on Rabu, 30 Desember 2015 | 17.37
Berpenampilan menarik dapat menguntungkan bagi hidup Anda, tetapi psikolog mengatakan ada jebakan yang tidak dikenali bagi orang yang cantik. Seperti dilaporkan oleh David Robson.
Dapatkah Anda menjadi terlalu cantik? Ini hampir bukan masalah yang harus direnungkan sebagian besar dari kita – sebanyak mungkin kita ingin memimpikannya.
Namun, berkah dan kutukan kecantikan sejak lama telah menjadi sesuatu yang menarik dalam psikologi. Bagi mereka yang diberkati dengan wajah yang simetris dan sosok yang menarik yang hidup dalam gelimang pujian – atau apakah itu datar saja? Penyisiran yang dilakukan selama beberapa dekade untuk menemukan, psikolog sosial Lisa Slattery Walker dan Tonya Frevert dari Universitas North Carolina di Charlotte telah mengkaji semua bukti sampai saat ini – dan kesimpulan mereka tidak seperti apa yang kamu perkirakan.
Dalam tingkat yang paling dangkal, kecantikan dapat dianggap membawa lingkaran cahaya di sekelilingnya; kami melihat bahwa seseorang memiliki sifat yang baik, dan diasosiasikan, asumsi alam bawah sadar kita bahwa mereka telah diberkati dalam bagian lain pula. “Ini merupakan salah satu dari banyak status karakteristik yang dapat kami identifikasikan dengan sangar jelas dalam interaksi kita,” kata Walker.
Image copyrightGetty Images
Bagi psikolog, ini disebut heuristik “Apa yang cantik itu baik” , tetapi bagi penggemar komedi situasi 30 Rock mungkin mengenalinya sebagai “gelembung”.
Karakter Jon Hamm merupakan sangat konyol, namun berhasil hidup bahagia dalam khayalan sendiri, berkat ketampanannya. Sebagai seorang dokter, contohnya, dia tidak dapat mengerjakan manuver Heimlich. Tetapi entah mengapa dapat lulus sekolah kedokteran, berkat pesona alaminya.
Menurut bukti-bukti yang tersedia, gelembung merupakan sebuah realitas. Dalam pendidikan, umpamanya, Walker dan Frevert menemukan kekayaan dari peneliian ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki wajah lebih baik, di sekolah dan universitas, cenderung dianggap lebih kompeten dan pintar oleh guru- dan itu tercermin dalam nilai yang diberikan kepada mereka.
Terlebih lagi, pengaruh bualan itu mengembang selama bertahun-tahun.”Ada efek kumulatif” kata Frevert. “Anda menjadi lebih percaya diri dan memiliki keyakinan yang lebih positif serta lebih banyak peluang untuk menunjukkan kemampuan Anda.”
Di tempat kerja, wajah Anda dapat menjadi keberuntungan Anda. Ketika semuanya diperhitungkan, orang lebih atraktif dapat lebih menghasilkan uang dan mendaki lebih tinggi di tangga perusahaan dibandingkan orang yang dianggap kurang menyenangkan.
Salah satu studi lulusan MBA ditemukan bahwa ada 10% sampai 15% perbedaan penghasilan antara orang yang paling dan tidak atraktif dalam sebuah kelompok – yang mendapatkan peningkatan penghasilan sampai US$230.000 dalam hidupnya. “Anda sedang diberikan keuntungan sepanjang hidup Anda, dari masa sekolah sampai ke dunia kerja,” jelas Walker.
Image copyrightGetty Images
Bahkan di pengadilan, penampilan yang menyenangkan dapat bekerja seperti sihir.
Terdakwa yang atraktif cenderung mendapatkan hukuman yang ringan, atau dapat menghindar dari semua hukuman; penggugat yang menarik, sementara itu, cenderung memenangkan kasus mereka dan mendapatkan ganti rugi keuangan yang lebih besar. ”Ini merupakan efek yang menjalar,” ungkap Walker.
Tetapi jika kecantikan dibayar oleh sebagian besar keadaan sekitar, masih ada situasi di mana dapat menjadi bumerang. Ketika pria yang menyenangkan dapat diperhitungkan sebagai pemimpin yang lebih baik, umpamanya, prasangka seksis yang terbuka dapat dilayangkan terhadap perempuan, membuat mereka kurang ditempatkan di posisi pekerjaan yang lebih tinggi yang membutuhkan otoritas.
(Jika Anda ingin mengambil film Hollywood sebagai contoh dalam penyangkalan ini, Frevert dan Walker menyarankan Anda melihat film Legally Blonde yang dibintangi Reese Witherspoon) dan seperti yang Anda perkirakan, orang-orang yang berpenampilan rupawan dari kedua jenis kelamin dapat menimbulkan kecemburuan- salah satu penelitian menemukan bahwa jika Anda diwawancara oleh seseorang dengan jenis kelamin yang sama, mereka mungkin cenderung tidak menerima Anda jika mereka menilai Anda lebih menarik dibandingkan diri mereka.
Image copyrightGetty Images
Yang lebih mengkhawatirkan, menjadi cantik atau ganteng dapat membahayakan perawatan medis Anda. Kami mencoba untuk mengkaitkan penampilan yang menarik dengan kesehatan, artinya bahwa penyakit seringkali dianggap kurang serius ketika menimpa orang-orang yang cantik dan ganteng. Ketika melayani orang yang sakit, umpamanya, dokter cenderung kurang merawat orang yang lebih atraktif.
Dan gelembung kecantikan agaknya dapat menjadi sebuah tempat yang sepi. Salah satu studi pada 1975, contohnya, menemukan bahwa orang cenderung menjauhi perempuan yang cantik di lorong kecil - mungkin sebagai tanda penghormatan, tetapi membuat walau begitu tetap membuat jarak dalam interaksi.
"Daya tarik dapat menjadi memberikan kekuatan dalam ruang yang nyata - tetapi itu dapat membuat yang lain merasa mereka tidak dapat mendekati orang tersebut," jelas Frevert.
Secara menarik, situs kencan online OKCupid baru-baru ini melaporkan bahwa orang yang memiliki gambaran profil dengan kecantikan yang paling sempurna lebih sulit untuk mencari kencan dibandingkan mereka yang memiliki banyak trik - dengan gambaran yang kurang sempurna - mungkin karena calon pasangan kencan merasa lebih sedikit terintimidasi.
Image copyrightGetty Images
Jadi seperti yang Anda mungkin perkirakan, menjadi cantik bukan merupakan kunci kebahagian tertentu - meskipun itu membantu.
Frevert dan Walker sangat tartarik untuk mempertegas bahwa seperti konsepsi kita mengenai kecantikan itu sendiri, pengaruh ini dangkal dan tidak memiliki akar dalam biologi kita, seperti yang mungkin diduga oleh sejumlah kalangan.
'Kami memiliki seluruh rangkaian budaya yang ideal mengenai kecantikan bahwa katakanlah jika seseorang atraktif - dan sampai pada impian yang sama, kami mulai menghubungkannya dengan kompetensi," kata Walker.
Dalam arti, itu hanya merupakan jalan pintas kognitif untuk sebuah penilaian yang tergesa-gesa.
“Dan seperti jalan pintas yang telah kami gunakan, ini sangat tidak dapat dipercaya," kata Frevert. Dan itu dapat dengan mudah mengurangi dampak - sebagai contoh, jika bagian sumber daya manusia memberikan lebih banyak informasi mengenai pencapaian seorang kandidat sebelum wawancara.
Pada akhirnya, Frevert menunjukkan bahwa terlalu fokus pada penampilan Anda dapat menimbulkan stres dan kecemasan yang tidak semestinya - bahkan bagi mereka yang diberkati dengan penampilan yang menarik.
"Jika Anda terobsesi dengan daya tarik, itu dapat mengubah pengalaman dan interaksi Anda," kata dia.
Memang terdengar klise, tetapi tidak ada jumlah kecantikan yang dapat menyebabkan sebuah kepribadian yang buruk. Seperti kata penulis Dorothy Parker yang menyatakan dengan elegan: "Kecantikan hanya merupakan kedalaman kulit, tetapi keburukan menusuk sampai ke dalam tulang."