Restoran dengan konsep unik yang mengizinkan tamunya bersantap tanpa
busana di London, akhir Juli ini akan menutup pintunya dan berpindah ke
negara lain.
Bunyadi, nama restoran ini, akan tutup pada 30 Juli, kemudian mengusung konsep yang sama di Paris, Perancis, September mendatang.
"Ini adalah keputusan yang baik dan saya senang akan pergi ke Paris," ujar Seb Lyall, pemilik restoran, dilansir Daily Meal.
Lyall mengatakan saat ini dia bersama timnya tengah mencari lokasi yang
tepat untuk Bunyadi. Meski mengusung konsep yang sama, Lyall ingin
memberi sentuhan berbeda pada Bunyadi Paris, baik dari segi tatanan
hidangan ataupun dekorasi restoran.
Soal peraturannya, Lyall mengatakan pengunjung tetap diberikan pilihan untuk tampil benar-benar tanpa busana ataupun tetap mengenakan jubah selama bersantap.
"Pengunjung akan tetap masuk ke ruang ganti untuk menanggalkan pakaian mereka dan diberi jubah serta sandal. Setelahnya, pengunjung akan ke ruang makan dan benar-benar melepas jubah mereka," ujar Lyall.
Konsep unik yang diusung Lyall ini terbukti menjadi daya tarik yang begitu besar. Di London sendiri, ribuan nama telah memenuhi daftar tunggu hingga kelak restoran ini ditutup. Ini yang kemudian menjadikan Lyall berharap adanya animo yang sama di lokasi selanjutnya. Bahkan, setelah Paris, Lyall mengatakan ingin terus membuka cabang baru.
"Saya tidak ingin berhenti di sebuah restoran. Saya pikir dengan komunitas yang telah kami bangun, kami dapat membuka klub dengan member khusus. Itu ambisi saya saat ini," kata Lyall, dikutip Business Insider. (
Bunyadi, nama restoran ini, akan tutup pada 30 Juli, kemudian mengusung konsep yang sama di Paris, Perancis, September mendatang.
"Ini adalah keputusan yang baik dan saya senang akan pergi ke Paris," ujar Seb Lyall, pemilik restoran, dilansir Daily Meal.
|
|
Soal peraturannya, Lyall mengatakan pengunjung tetap diberikan pilihan untuk tampil benar-benar tanpa busana ataupun tetap mengenakan jubah selama bersantap.
"Pengunjung akan tetap masuk ke ruang ganti untuk menanggalkan pakaian mereka dan diberi jubah serta sandal. Setelahnya, pengunjung akan ke ruang makan dan benar-benar melepas jubah mereka," ujar Lyall.
Konsep unik yang diusung Lyall ini terbukti menjadi daya tarik yang begitu besar. Di London sendiri, ribuan nama telah memenuhi daftar tunggu hingga kelak restoran ini ditutup. Ini yang kemudian menjadikan Lyall berharap adanya animo yang sama di lokasi selanjutnya. Bahkan, setelah Paris, Lyall mengatakan ingin terus membuka cabang baru.
"Saya tidak ingin berhenti di sebuah restoran. Saya pikir dengan komunitas yang telah kami bangun, kami dapat membuka klub dengan member khusus. Itu ambisi saya saat ini," kata Lyall, dikutip Business Insider. (

0 komentar:
Posting Komentar