Lari terbirit-birit karena dikejar petugas atau dipalak preman jadi makanan sehari-hari di jalanan Jakarta.
Bagi Udin, nama samaran, bocah pengamen 'boneka goyang kepala',
pengalaman seperti itu sudah pernah dilaluinya. Menurut dia, aksi
kekerasan sudah menjadi teman akrab buat anak-anak jalanan seperti dia.
Kala
itu, bocah berkepala plontos dan kakaknya itu memilih mengambil langkah
seribu dengan melepas kepala boneka sembari masuk ke dalam gang kampung
untuk menghindari kejaran petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol
PP). "Dari pada ditangkap lagi, ribet ngurusnya, mending kabur," ujarnya
tertawa polos kepada merdeka.com saat ditemui di Jakarta, pekan lalu.
Belum
lagi hasil mengamennya pernah diambil oleh preman usai mengamen.
Mirisnya, semua hasilnya pada hari itu tak menyisakan sama sekali. Hari
nahas seperti itu pernah dialami kaka beradik itu. "Seharian ketemu
preman mabuk, semua uang diambil," ujar Mamat, kakak kandung Udin.
Tokoh pemerhati anak, Seto Mulyadi
mengungkapkan permasalahan anak dengan tindak kekerasan merupakan
tanggung jawab bersama. Semua unsur harus berperan dalam menjaga anak
dari tindakan fisik, pikiran maupun jiwa.
"Semuanya, Kemensos, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPAI, Komnas PA, orang tua, tetangga, maupun segenap lingkungan, harus bersinergi," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto kepada merdeka.com saat dihubungi melalui telepon selular.
Kekerasan
fisik memang menghantui setiap anak-anak saat berada di jalanan.
Apalagi, Jakarta dinobatkan sebagai kota tak pernah ramah buat
anak-anak, sebab banyak tindakan kekerasan yang menjadi anak sebagai
korban.
Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada
tahun 2014 lalu, laporan kekerasan terhadap anak cenderung meningkat
saban tahunnya. Pihaknya menerima sebanyak 622 laporan kasus kekerasan
terhadap anak sejak Januari hingga April 2014. Komisioner KPAI, Susanto
MA, mengatakan kasus paling menonjol dalam kategori anak berhadapan
dengan hukum dan kekerasan.
Hampir seirama dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak ( Komnas PA)
kecenderungan pelanggaran terhadap anak pada tahun 2015 terus
meningkat. Hal itu dapat terjadi apabila segenap unsur tak melakukan
tindakan pencegahan serta penangan lebih intensif.
"Kalau
dibiarkan, 2015 kami prediksi tingkat kekerasan dengan pelaku anak-anak
akan naik 12-18 persen," kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait di
kantornya, Jakarta. beberapa waktu lalu.
Uang hasil mengamen ludes dipalak preman
Written By Natla on Selasa, 18 Agustus 2015 | 18.55
Label:
Berita Unik,
Nasional
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar